Dear kamu yang berwajah puitis
Kepadamu yang berada di ujung waktu; derai gerimis membasahi rerumputan rindu, lenyapkan segenap asamu. Kau pun mulai terbuai dalam jernihnya telaga senja, diiringi matahari yang terbit dari lembah hatiku dan ku pun berkata : Aku mencintaimu
Kepadamu yang berada di ujung waktu; di malam-malam istimewa bintang terkesima menatap ku, semilir angin berbisik sendu. Terjawab sudah di balik senyummu tanpa ragu, dirimu telah lama ku rindu.
Kepadamu yang berada di ujung waktu; ku takkan pernah membisu, inginku meniti waktu bersama nafas yang masih tersisa. Kini kau telah bersua, rindu yang merengkuh pesona.
Kepadamu yang berada di ujung waktu; aku datang di riak-riak senja mencumbu cakrawala namun inilah aku, rindu yang terdampar di hatimu.
Kepadamu yang berada di ujung waktu; dekaplah aku saat malam mengarungi lekuk tubuhmu, kini kumerinding dalam hasrat dan gerimis pun mulai menyunting melenyapkan malam-malam kering
Kepadamu yang berada di ujung waktu; kutanam rindu walau angin bergemuruh. Dengan segelintir kisah bagai titik-titik embun syahdu yang berdusta oleh kendara waktu, namun cintaku melampau batas sunyi terpahat menjadi prasasti.
Kepadamu yang berada di ujung waktu; sepinggan warna menghias kidung semesta, menyatukan panorama yang tersembunyi di balik rahasia rembulan. setelah derasnya hujan mengguyur mesra, kuseka wajahmu dengan kecupan sebelum akhir pertemuan.
Kepadamu yang berada di ujung waktu; ini tak sekedar puji ataupun rayu, yang ada debu -debu rindu berhamburan semakin mencumbu masa sebab rinduku teruntuk jiwamu.
Kepadamu yang berada di ujung waktu; hadirku penawar jiwamu andai berkelu kesah. Dawai nafasmu menghempas dukaku yang terpasung lara.
Wanita penunggu waktu







Tidak ada komentar:
Posting Komentar