Blogger Templates
Cute Baby Hello Kitty Twins

star two

Jumat, 15 April 2011

Rahasia Kita




Dear kamu yang berwajah puitis

Kepadamu yang berada di ujung waktu; derai gerimis membasahi rerumputan rindu, lenyapkan segenap asamu. Kau pun mulai terbuai dalam jernihnya telaga  senja, diiringi matahari yang terbit dari lembah hatiku dan ku pun berkata : Aku mencintaimu
Kepadamu yang berada di ujung waktu; di malam-malam istimewa bintang terkesima menatap ku, semilir angin berbisik sendu. Terjawab sudah di balik senyummu tanpa ragu, dirimu telah lama ku rindu.
Kepadamu yang berada di ujung waktu;  ku takkan pernah membisu, inginku meniti waktu bersama nafas yang masih tersisa. Kini kau telah bersua, rindu yang merengkuh pesona.
Kepadamu yang berada di ujung waktu; aku datang di riak-riak senja mencumbu cakrawala namun inilah aku, rindu yang terdampar di hatimu.
Kepadamu yang berada di ujung waktu; dekaplah aku saat malam mengarungi lekuk tubuhmu, kini kumerinding dalam hasrat dan gerimis pun mulai menyunting melenyapkan malam-malam kering
Kepadamu yang berada di ujung waktu; kutanam rindu walau angin bergemuruh. Dengan segelintir kisah bagai titik-titik embun syahdu yang berdusta oleh kendara  waktu,  namun cintaku  melampau batas sunyi terpahat menjadi prasasti.
Kepadamu yang berada di ujung waktu; sepinggan warna menghias kidung semesta, menyatukan panorama yang tersembunyi di balik rahasia rembulan.  setelah derasnya hujan mengguyur mesra, kuseka wajahmu dengan kecupan sebelum akhir pertemuan.
Kepadamu yang berada di ujung waktu; ini tak sekedar puji ataupun rayu, yang ada  debu -debu  rindu berhamburan  semakin mencumbu masa sebab rinduku teruntuk jiwamu.
Kepadamu yang berada di ujung waktu; hadirku penawar jiwamu andai berkelu kesah. Dawai nafasmu menghempas dukaku yang terpasung lara.


Wanita penunggu waktu








Kembara Panjang Untukmu

Doa yang terus kulantunkan untuk mu jika  suatu saat bisa membawaku menuju surga Nya, menikmati surga Nya dalam cinta yang abadi. Kuberharap apapun yang terjadi dalam masa laluku dan masa lalumu bukan penghalang untukmu dan kita untuk meraih cinta suci kembali. Setiap malam tak pernah terpikirku untuk melihat keindahan lain selain keindahan jiwamu, keindahan yang pernah membuatku meluluhkan segala asa dan rasa untukmu. Rasa yang telah lama kusimpan sebab ku menunggu titisan jiwa yang yang membasahi jiwaku yang telah tandus, namun ku yakin engkau kan datang saat waktu telah merengkuh kita untuk berpadu.
Walau hanya sepintas kulihat bayangmu tiap waktu, terlalu banyak mimpi tentang kita. mimpi saat ku menangis, engkaulah yang menghapus air mataku. Mimpi disaat ku wisuda dan engkau telah menjadi pendamping wisuda abadi. Jikalau cintamu memang terpatri untukku, ku kan terus memberi nafas dalam hari-harimu dengan jutaan cinta yang tak terhingga. Andai kita berpadu suatu saat nanti, saat engkau mulai membuka mata ribuan cinta beterbangan di sekelilingmu. Cinta yang telah terpendam begitu lama yang tak pernah kuungkapkan pada siapapun dan hanya kucurahkan untukmu.
Bagiku bersanding dihadapan kedua orang tua kita untuk berikrar menuju bahtera sakinah, mawaddah, warrahmah adalah impian terhebat sepanjang hidupku. Telah banyak tulisan-tulisan indah yang kupersembahkan untukmu, sebab engkaulah yang membuatku merasakan cinta yang sesungguhnya. Setiap kata yang keluar sebagai ucapanku adalah benih-benih rasa yang mengawali cintaku untukmu. Marahku, senyumku, keegoisanku adalah secercah cinta yang tak terungkap untukmu.
Satu permohonanku untukmu, janganlah pergi sedetikpun dari hatiku, hati yang terus mengalirkan ketulusan untuk jiwa yang lembut sepertimu. Engkaulah yang membuatku bisa berjalan, bahkan bisa berlari tapi janganlah engkau yang membuatku tertatih kembali. Kekuranganmu adalah hal yang paling sempurna kumiliki sebab kekuranganku telah Engkau miliki seutuhnya.







Jawaban Rindu


Sisa-sisa suaranya pun tak pernah terdengar lagi. Begitulah seterusnya hingga waktu pun membawanya ke dalam perjalanan waktu. Perjalanan waktu yang merubah semua dahaga menjadi resah bahkan semakin gelisah. Bangku-bangku taman menyambutnya dengan titisan embun, layaknya hati yang masih terkikis. Terlintas kejadian itu di benaknya sekarang.
Apakah ini salahku karena sudah masuk ke dalam kehidupannya, atau apa ini kesalahannya yang telah masuk ke dalam kehidupanku. Atau ini kesalahanmu  yang telah mempertemukanku dengannya. Semalam bersamanya merupakan kebahagiaan yang kuinginkan selama ini, tapi itu hanya kebahagiaan semu.
             “Risya, jangan melamun terus!”.
 “Kamu farhan, selalu saja ganggu aku lagi termenung!”
            Farhan yang menjadi teman bahkan sahabat Risya selama ini, tak sedikitpun mengerti yang dirasakannya saat ini. Tak sanggup rasanya Ia menceritakan padanya, mungkin  suatu saat nanti Farhan akan mengerti.
Kebahagiaan yang membawaku ke dalam satu dilema. Semua itu terjadi karena kesalahan, tetap pada kesalahan yang sama, menjadikannya sebagai sahabat merupakan sebuah pilihan.” Batinku mengatakan penuh gelisah
            Sore itu farhan berniat mengajak Risya pergi ke suatu tempat, untuk kesekian kalinya caranya yang selalu misterius membuatnya tak berucap sepatah katapun.
“Risya haruskah kita tetap bersahabat meski waktu tak  menyatukan kita dan jika itu terjadi aku ingin mengubah jalan kita?”
“Kamu jangan bercanda, sebaiknya kita membahas yang lain saja ya?”
Terlihat Farhan hanya memandang hamparan langit biru sambil berucap lirih, “Salahkah jika suatu saat pilihan itu salah dan bisa berubah?
 “Farhan, kita pulang saja!”
 Farhan…. Farhan…. Farhan Bangun.”
***
Sejak kepergian Farhan, Risya menjadi pendiam  dan memilih menjauhkan diri dari teman-temannya. Risya merasa bersalah atas meninggalnya Farhan sehingga Ia memutuskan untuk pindah kuliah ke kota kelahirannya, Bandung. Kota yang sejak dulu menjadi impiannya bersama Farhan.
“Farhan, izinkanku melupakanmu sebab kau tak pernah mencintaiku!”
Dan itulah ucapan Risya terakhir di pusara Farhan sebelum Ia pergi meninggalkan semua kenangannya, keresahannya bersama Farhan .
            Setelah beberapa bulan Risya kuliah di kampus yang baru, Ia sudah mulai bisa melupakan sosok Farhan. Walaupun foto-foto Farhan masih terpajang indah di dinding kamarnya, namun ia tetap berusaha untuk tidak mengingat semua kisahnya terdahulu.
            Tugas kuliah yang tak kunjung selesai, mengharuskannya untuk mencari referensi-referensi baru. Berjam-jam Ia keliling bursa buku bekas, akhirnya ia menemukan buku yang dicarinya sejak pagi. Namun tiba-tiba ada seseorang yang mendekatinya,
            “Benar kamu yang bernama Risya?”
            “Kamu siapa, kenal aku dari siapa?”
            “Sebaiknya kita tak perlu kenal sebab saya  hanya ingin memberikan sesuatu untukmu, titipan dari seseorang yang selama ini menunggu jawabanmu.”
            Risya berpikir keras untuk mengingat semua janji-janji yang pernah diucapkannya, tapi ia merasa semua janjinya telah dilunasinya. Tanpa  bertanya-tanya lagi darimana titipan itu, ia langsung mengambilnya dan meninggalkan bursa buku bekas menuju kosnya.
            Begitu sampai di kosnya Ia langsung meletakkan titipan yang dibawanya dari bursa buku bekas tadi sore di dalam lemarinya. Ia masih sibuk dengan tugas-tugasnya hingga larut malam dan keesokan harinya Ia menghadapi ujian akhir semester. Risya merasa bahagia sebab kuliah akan libur sebulan dan ia berencana untuk berlibur sekaligus reuni bersama teman-teman SMU nya. Dan Ia pun sudah memesan tiket pesawat untuk penerbangan esok hari.
Berakhir sudah masa-masa sulit menghadapi ujian akhir dan Risyah mulai memejamkan matanya untuk beristirahat setelah mengemasi pakaiannya yang akan dibawanya besok.
Dalam tidurnya Risyah bertemu dengan Farhan, saat Risyah ingin memeluknya tiba-tiba Farhan meninggalkannya pergi jauh. Risyah terduduk pasrah melihat kepergian Farhan.
Lalu ia terbangun dari tidurnya dan mengambil wudhu untuk bermunajat pada Sang Perindu.
Tiba-tiba ia ingat sesuatu yang pernah dibawanya dari bursa buku bekas beberapa hari yang lalu. Ia pun mulai mencari di sudut-sudut kamarnya tapi tak ditemukan juga, tanpa sengaja ia melihat bungkusan berwarna ungu di dalam lemarinya.
Namun Ia berniat membawanya esok hari dan akan membukanya di dalam pesawat.
Setelah Ia menemukan tempat duduknya, Ia mulai membuka pelan-pelan bungkusan ungu tersebut. Namun Risya hanya menemukan beberapa lembar kertas yang diketik rapi oleh penulisnya.
Rasa yang telah lama kusimpan sebab ku menunggu titisan jiwa yang yang membasahi jiwaku yang telah tandus, namun ku yakin engkau kan datang saat waktu telah merengkuh kita untuk berpadu.
            “Perjalanan ini kan semakin membingungkanku dengan adanya kertas-kertas ini, sebaiknya kubuang saja bungkusan  ini, tapi apakah ini ?”
            Andai kita berpadu suatu saat nanti, saat engkau mulai membuka mata ribuan cinta kan beterbangan di sekelilingmu. Cinta yang telah terpendam begitu lama yang tak pernah kuungkapkan pada siapapun dan hanya kucurahkan untukmu.
            Risya berusaha mencari identitas pengirimnya tapi tak ada sedikitpun identitas yang dicantumkan pengirim di bungkusan ungu itu. Namun Ia hanya menemukan seuntai kata yang semakin membingungkannya.
Bagiku bersanding dihadapan kedua orang tua kita untuk berikrar menuju bahtera sakinah, mawaddah, warrahmah adalah impian terhebat sepanjang hidupku. Telah banyak tulisan-tulisan indah yang kupersembahkan untukmu, sebab engkaulah yang membuatku merasakan cinta yang sesungguhnya.”
Namun kini Risya tak sanggup membendung air matanya.
Satu permohonanku untukmu, janganlah pergi sedetikpun dari hatiku, hati yang terus mengalirkan ketulusan untuk jiwa yang lembut sepertimu. Engkaulah yang membuatku bisa berjalan, bahkan bisa berlari tapi janganlah engkau yang membuatku tertatih kembali. Kekuranganmu adalah hal yang paling sempurna kumiliki sebab kekuranganku telah Engkau miliki seutuhnya.
“Risya aku mencintaimu”


Rantingpun Mengering

Untuk Latifah Yusuf Damanik

aku mencintai jutaan dustamu selaksa embun mendusta dedaunan
ribuan sesal bertahta membungkam senyap
menyisakan harapan berpura makna
di kala rapuh membuncah sukma
ranting pun mengering  berharap mentari tak lagi berpendar
sebab kenangan mulai menjelma sendu

Selasa, 12 April 2011

Menjamu Gemuruh



impian malam di pelataran bulan
mengiris sepi di jaring temaram
sedang asa menyelusup batin
menjadi kerangkeng cerita nestapa
namun hujan menjamu gemuruh
hingga masa tak mampu berkisah

My sister

My sister
Tria...

Papa, Ibu, Nurul, Mazda

Papa, Ibu, Nurul, Mazda
dan mereka bermunajat kepada Mu.. Demi anak-anak

Papa dan Adik....

Papa dan Adik....
Pahlawan keluarga, pengemban amanah

My Sister

My Sister

Nurul :) Mazda

Nurul :) Mazda
Love u 4 ever

Your pictures and fotos in a slideshow on MySpace, eBay, Facebook or your website!view all pictures of this slideshow

Pengikut