Blogger Templates
Cute Baby Hello Kitty Twins

star two

Senin, 24 Juni 2013

21 juni 2013

Malam 21 juni tiba-tiba signal menghilang. Ahhhhhhh padahal sesuatu yang penting terjadi. Dag dig dug dueeerrrrrrrr,,, jepret mati lampu... Waktu nulis ini, karena teringat beberapa malam lalu. Rupanya besok paginya ada pesan masuk dari my swan yang bunyinya " Saat kupejamkan kedua mataku dan kubayangkan disampingmu dan kugenggam lembut kedua tanganmu seakan takut kehilanganmu...... " rupanya beberapa bait lagu Andra mengiringi hari jadian kami yang sudah setahun.  Tapi pertengkaran kecil terjadi, rasanya menyesalnya luar biasa padahal suasana lagi bahagia, lama juga terdiam mungkin sama-sama menangis ah.... Aku lupa beberapa minggu lagi aku pergi jauh menyeberang pulau,,,, dan diakhir telepon diujung pembicaraan ada ucapan "Happy anniversarry ya Sayang" kalau boleh disampaikan ulang... Rasanya mau bilang maaf

Kamis, 10 Januari 2013

PUISI KONTEMPORER


SEMISAL APA!
Karya: Dara Syahadah

Meradang
Meradang
Meradang
                        Kerudung
Semisal mendung
Serupa  kerudung
                        Meradang
                        Meradang
                        Mengerang
Oh sakit
Sakit
            Sumpah
            Tak lahir
Di balik kerudung






TANYA IBU
Karya: Dara Syahadah

Janinjanin pulang
Berpeluh
Berlari
Meniduri ibunya
Hitam di atas hitam
Putih di bawah Putih
Tinggal selembar
Tunduk

BIODATA PENULIS
Dara Syahadah. Penulis kelahiran 16 september 1990 di kota Medan, adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Medan. Bergiat di Komunitas Penulis Anak Kampus, Komunitas Benih Embun, dan beberapa forum diskusi sastra. Beberapa karyanya telah dimuat di media lokal Medan dan Nasional serta sejumlah antologi. No. Hp: 087766118020. E-mail: darasyah@rocketmail.com. Twitter: @kirakiraku. Facebook: Modemoisell Rasyah.

Senin, 17 Oktober 2011

Pintaku Pada Tuhan

2 tahun segala rindu terhampar di sebalik asa
Pintaku pada Tuhan, rinduku akan nasihatnya malam ini
Ingat akan sewaktu sekolah, papa mengusap kepalaku sambil berkata “Anak bertuah ya?” ucapnya.
“Aduh papa, kakak kan sudah besar kenapa masih diusap kepalanya” ujarku.

hingga sejak itu bertahun sudah usapan dari jemari papa masih terasa hingga usiaku beranjak dewasa.

Menurutku papa adalah pahlawan teladan dari yang paling teladan.
Sejak dulu jika orang menanyakan padaku siapa yang kukagumi
jawabanku adalah…
Papa..
 
Tuhan izinkan malam ini nasihatnya menemaniku untuk menuntaskan mimpi-mimpiku yang masih tertunda.
Tuhan jangan halangi rinduku oleh padatnya jaringan telepon, bukankah Engkau adalah penghubungku yang paling luar biasa dari apapun atau siapapun.
Papa ada kabar dari seseorang bahwa 2 minggu lagi papa akan pulang…
Papa mohon mengertilah ?
Ada rindu yang masih berseteru di heningnya doa-doa yang kulantunkan untukmu
Semoga waktu mempertemukan rindu-rindu kita yang menunggu usapan jemarimu
Esok.
Ah…..
Sesak membuncah dari batin yang semakin diam
Papa…
Hampiri segala mimpi dan doa
Untuk anakmu malam ini.
Inilah doa anakmu pada Tuhan..
Amin…

Selasa, 02 Agustus 2011

Sebait Diam


Mendusta malam ucapmu lirih
hingga terjaga di bait diam
Debarku menari lihai
pahamkah kau tentang sepi
Dalam tunggu melukis temaram

Lamunku.

Seberkas kisah mulai berpendar
Pun rindunya masih terdampar  di malam lalu
Merangkum sedetik hening
Menyeru namamu
Di ambang rinai seketika lenyap
Pupus di awal senja
Kelam lalu tenggelam 


Untuk yang tidak boleh disebut namanya
“Be…”

Jumat, 08 Juli 2011

FAJAR BERWAJAH GERIMIS

karya : darasyah
            miel.near
    w.k.dian
   



Cerita ini tentang cinta. Namun bukan cinta yang selama ini kalian kenal.


Pesan Ibu minggu lalu masih terus terngiang seolah hari tak lagi berjalan. Sejak gelar sarjana berdamping di awal nama pemberian orang tuaku, hanya omelan ibu yang menghiasi awal hari hingga senja merindu semesta. Kalau tidak takdir yang dibicarakan, perjodohan pun terkadang tak terelakkan. Apalagi kakak tertuaku tak juga memiliki momongan.
Rasa kawatirku pada kesehatan ibu makin bertambah saat tiap minggu ibu harus ke rumah sakit untuk mengontrol tekanan darahnya. Entahlah, apakah aku harus menuruti semua pintanya? Tapi bukan masalah perjodohan saja yang menjadi beban pikiranku sekarang. Ah, mendengar semua ocehan Ibu aku jadi menyesal. Nimas! kenapa kamu harus pulang sekarang?? Kenapa tidak pulang nanti saja? Aku teringat Naura sahabatku, teman satu kampusku, dia sudah mendapatkan pekerjaan. Sebersit pikiran lewat tiba tiba menggugahku. Ku ambil kamera nikkon kesayangku dari dalam tas ransel diatas pangkuanku. Dengan berat kuberdiri, aku mulai berjalan menjauh, meninggalkan rumah yang telah ku huni belasan tahun ini.
Namun tiba-tiba saja ku tak yakin dengan langkah kakiku, entah keputusanku ini akan berujung baik ataukah buruk nanti. Bagaimana dengan Ibu? Bapak? Kuhentikan langkahku saat kulihat semburat jingga matahari. Akankah ku bisa menikmati pemandangan syahdu ini lagi? Akankah aku melihat senyum ibu yang begitu menenangkan hati, ataupun kata-kata bijak Bapak. Bahkan mungkin Ibu atau Bapak tak ingin melihatku lagi setelah keputusanku ini. Pandanganku beralih silih berganti antara teras rumah yang Bapak bangun dengan susah payah, bahkan ku ingat Bapak merelakan satu ekor sapi kesayangannya untuk membangun teras rumah yang kataku tak sebegitu bagus, dan jalan panjang di depanku, yang mungkin di depan sana aku bisa menemukan sesuatu yang lebih dari pada sekarang yang aku dapat. Oh, aku benar-benar tak ingin melakukan ini.
Aku dibesarkan di keluarga yang menjunjung tinggi ‘bibit, bebet dan bobot”. Sejak kecil Bapak dan Ibu memanggilku dengan sebutan Nimas Ayu, seperti kata mereka “ keluarga kita keturunan darah biru” ujar Bapak saat itu. Sebagai gadis kecil yang belum mengetahui istilah “bibit, bebet dan bobot”, aku selalu mengikuti apa yang mereka katakan. Dari urusan sekolah, berteman, pekerjaan hingga masalah calon suami pun orangtuaku lah yang menentukan..
Aku teringat beberapa bulan yang lalu saat Ibu mengomentari kesibukanku, membolak-balik koran, melingkari beberapa lowongan pekerjaan..
“Oalah nduk… nduk jangan ikuti jejak kakakmu yang tidak ikut pesan Ibu, apa jadinya sekarang!” ujar ibu di pagi yang mendung itu.
Benar juga yang dikatakan oleh ibu, kakak tertuaku menikah tanpa restu dari keluarga. Namun naluri seorang ibu takkan pernah pudar meski kesalahan anaknya terlalu besar. Hal ini pula yang sebernarnya aku takuti. Pekerjaan saja aku belum dapat. Apalagi masalah perjodohan? Aku belum sempat memikirkan itu. Aku takut, bagaimana kalau nanti aku seperti kakak? Tiba tiba . .
“Ehm.. Nimas Ayu..” suara seseorang telah mengagetkanku. Membuatku tersadar, jika sedari tadi aku melamun di tengah hamparan sawah milik Bapak. Sawah ini mengering karena musim panas yang berkepanjangan.
“Kamu sudah pulang?” tanyanya lagi. Mulutku sempat ‘babibu’ melihat sosok lelaki itu.
“Ah.. kamu.. i..iya, aku baru saja pulang” ucapku. Suasana hening seketika. Di saat seperti ini, lelaki itu tiba-tiba saja datang tak di undang. Lelaki bertubuh jakung, dengan gaya rambutnya yang menutupi bagian keningnya. Namanya, Elang.
Elang berdiri di depanku, kedua tangannya bersedekap di dadanya, tubuhnya yang tinggi, tak kurus dan tak juga gemuk tampak begitu sempurna dimataku. Senyuman tipis terulas dibibirnya. Ia berjalan mendekat dan duduk disampingku. Jantungku berdegup keras. Ya, Elang selalu bisa membuatku menjadi seperti ini. Andai saja Ibu dan Bapak mengerti, sejak kecil aku sudah jatuh cinta pada Elang. Pada kesederhanaannya, pada senyum ramahnya, pada lelucon-leluconnya yang kadang menurutku tak lucu sama sekali. Andai saja aku bisa menolak perjodohan yang Ibu dan Bapak rencanakan. Andai saja aku tak perlu pergi dari sini. Aku pasti masih bisa memandang Elang, berbincang dengannya atau hanya mendengar leluconnya.
“Sedang apa disini?” lamunanku buyar mendengar pertanyaan Elang.
Aku hanya menggeleng dan tersenyum.
“Kau tidak ingin bercerita padaku?” Elang bertanya sekali lagi
“Aku suka pemandangan di sini, begitu menenangkan hati” sedikit ku mencuri pandangan ke arah Elang. Rambut ikalnya menari-nari dimainkan angin.
“Ooh, aku juga suka. Terus, kenapa kamu bawa kamera itu?”
“Ah? Ini... tidak, bukan untuk apa apa”
Aku dan Elang kembali terdiam. Melihat wajah Elang, aku teringat kejadian sebelum aku pergi dari sini. Aku, Elang dan Naura duduk di saung pinggir sawah punya Bapak, ada canda dan gelak tawa. Sampai akhirnya, Ibu memanggilku. Dan dengan terpaksa, itulah saat terakhir aku bersamanya sampai akhirnya aku pergi ke kota.
“Ayu, hari udah mulai gelap. Kamu tidak pulang?” lagi lagi lelaki itu mengagetkanku.
“Ah? Iya “ dengan kikuk, aku segera berjalan mundur, lalu pulang ke rumah meninggalkan Elang. Ya, pulang ke rumah. Sepertinya, bertemu dengan Elang di saat seperti ini bisa membuat hatiku tenang. Tak segelisah tadi. Tiba tiba, suara Ibu membuatku yang akhirnya refleks menghampiri beliau di kamarnya.
“Ibu... maafin Nimas. Tadi, tadi Nimas khilaf. Ibu sudah tidak apa apa?” tanyaku cemas. Wanita itu terbaring lemah di tempat tidur. Sementara aku, Anak yang belum banyak merasakan asam garamnya kehidupan  tiba tiba saja hampir meninggalkan rumah karena tak kuat menanggung masalah.
    Hingga esok paginya adik Elang datang tiba-tiba ke rumahku, dengan wajah kecemasan ia memberi kabar kalau Elang masuk rumah sakit. Tanpa sepengetahuan Ibu, aku pergi bersama adik Elang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Elang yang sebenarnya. Jantungku seakan berhenti seper sekian detik, saat tiba tiba adik Elang menjelaskan, bahwa ternyata Elang mengidap penyakit kanker darah yang sudah memasuki stadium 4. Seharusnya, kemarin Elang tengah menjalani kemoterapinya. Tapi,  bukankah kemarin Elang menemaiku berdiri tiada guna di sawah. Ya Tuhan.. ini semua.. ini semua salahku.. Aku hanya bisa menutup mulutku menahan tangis.
Namun dalam keterbatasannya, Elang tiba tiba menyentuh tanganku, lalu sepatah kata inilah yang terucap di bibir pucatnya “kita sejak kecil sudah dijodohkan, namun Tuhan menginginkan kamu berjodoh dengan pilihan hatimu, Yu” ujarnya terbata.
“Tapi. Elang kenapa tidak sejak dulu kamu memberitahukan kalau kita telah dijodohkan, bukankah selama ini kamu yang paling dekat denganku” ucapku sambil terisak.
“Kenapa Elang? kenapa?” ucapku
"Karena, aku... aku baru sadar, kalau  aku mencintaimu. Ketika... ketika hal yg tersulit yg kuucapkan adalah, sampai jumpa lagi. “Ni...Nima Ayu”
Elang? Elang? Bangun..
Lelaki itu tiba tiba menutup matanya, dan refleks, ku sentuh pelan pergelangan tangannya. Benar, tak ada pembuluh nadi yang berdenyut lagi di tubuhnya. Elang sekarang sudah tiada. Elang yang kemarin menemaniku di sawah, Elang yang saat itu tertawa bahagia bersamaku dan Naura. Sekarang, tinggalah Elang yang terbaring dalam tidur panjangnya.

Kamis, 30 Juni 2011

Benih Mentari


Mentari pagi terbit dengan sedikit guratan senyum. Wajahku terlihat gerimis menghadapi senin pertama bulan ini. Walaupun kampus masih sepi, hanya beberapa mahasiswa dan petugas kebersihan yang nampak santai di koridor, tapi bayang-bayang mereka menghantuiku bagai vampire yang haus  darah. Termasuk aku mungkin salah satu calon korbannya. Mungkin pantas jika bendahara yang kusebut manusia penghisap darah, dan diktat  di sebut seperti zombie yang selalu memaksa manusia untuk memberikan seluruh nyawanya.
Di kos juga ada vampire karena belum sampai waktu membayar uang bulanan, sebelum tepat jam 12 malam seluruh penghuni kos harus sudah membayar lunas. Satu-satunya senjata yang ampuh untuk membunuh makhluk penghisap darah adalah uang. Sudah tanggal 13 kartu atm milikku menjerit-jerit kesakitan karena berkali-kali digesek baja panas. Kamera cctv juga sudah bosan melihatku berdoa didepannya semoga ada angka yang bertambah di depan saldo tabunganku.
Siang ini aku berjalan gontai menuju tempat favoritku, ku sebut tempat ini dengan pohon jodoh karena di bawah pohon ini aku sering berjodoh. Jodoh dengan daun-daun yang selalu  jatuh tepat di pangkuanku, matahari yang selalu berusaha untuk mencumbu jidatku dan mungkin saja suatu saat ada jodoh yang tidak terbatas pada jodoh bertemu.
Angin memelukku hangat seolah menenangkanku dari batu-batuan yang bersarang di kepalaku. Sayup-sayup kulihat siluet di balik lalang-lalang yang dekat pohon jodohku ini. Lalang-lalang itu seakan menyuruhku untuk mendekat ke arahnya, ternyata ku melihat sosok mungil yang senyum padaku. Spontan kakiku gemetar dan rasanya gak bisa lari, Oh tuhan musibah atau jodoh yang datang siang ini. Langsung terbayang wajah vampire kelas dan vampire kos mematahkan leherku. Pelan-pelan aku berjalan mundur untuk lari dari mimpi siang bolong, tapi tiba-tiba naluri keibuanku muncul. Tak tega rasanya melihat makhluk kecil itu, malaikat kananku berhasil merayu jiwa ini untuk kembali ke tempat tadi. Kutatap mata mungil itu, terlihat jelas Ia tidak merasa terbebani dengan masalah yang Ia hadapi sekarang ataupun suatu saat nanti.
            Kuangkat makhluk kecil itu pelan-pelan dalam gendonganku, Ia langsung kusembunyikan di balik kerudungku, orang-orang di sekitar gang kosku tidak begitu memperhatikan karena setiap hari tas ransel selalu ku gendong di dada. Alhamdulillah kosku sepi, jadi  makhluk kecil baruku langsung kuletakkan di tempat tidurku. Mungkin lebih baik aku bersyukur karena bisa menyelamatkan nyawa manusia tapi aku harus bilang apa jika ada yang tahu kalau aku memiliki bayi. Ohh... malangnya hari ini, semoga saja ada hikmahnya di balik matahari senja yang cemberut ini.
            Alhamdulillah setelah ku cek saldo tabungan dari ponsel ternyata ada beberapa nominal yang bertambah. Tapi, sedikitpun aku tidak ingat dengan para vampir, setelah ku tidurkan makhluk kecilku. Langsung aku pergi ke supermarket untuk membeli pakaian bayi dan beberapa perlengkapan lainnya termasuk susu formula.  Sampai di kos makhluk kecilku tersenyum-senyum melihatku, langsung kugantikan baju dan celananya yang sudah usang. Setelah bersih dan wangi ku letakkan Ia di pangkuanku, ku beri nama  Ia dengan Makrunah.
            Kelihatannya Ia senang kupanggil dengan sebutan Onah. Malam itu juga aku pamit dengan ibu kosku untuk pindah ke rumah kontrakan dengan alasan aku mau mengurus sepupuku yang yatim piatu. Ibu kosku mengizinkan dan teman-teman ku yang lain membantu membereskan barang-barangku. Beberapa teman lainnya saling merebutkan Onah. Ada yang bilang Onah itu mirip denganku tapi mereka percaya karena Onah kuakui sebagai sepupuku. Tidak ada sedikitpun rasa curiga dari semua penghuni kosku termasuk ibu kos. Sebenarnya mereka menyayangkan kenapa aku harus pergi, mungkin ibu kosku lagi berbaik hati Ia mencegahku pergi dengan syarat jangan telat membayar uang kos dan tetap melaksanakan kewajiban sebagai penghuni rumah kosnya.
            Kebetulan minggu ini akhir masuk kuliah,  mulai minggu depan libur selama kurang lebih tiga bualan.jadi aku bisa menjaga Onah setiap hari. Selama ini Onah tidak hanya diasuh olehku tapi beberapa teman satu kosku mau menjaganya, karena dengan hadirnya Onah, suasana kos jadi ramai. Kalau menurut perkiraanku Onah berusia 4 bulan, mungkin ia terlahir prematur karena dari ukuran tubuhnya tidak seperti ukuran bayi biasa.
            Ke manapun aku pergi Onah selalu kuajak, layaknya putri kecil yang lahir dari rahimku sendiri. Tidak lupa hampir setiap hari aku mengabadikan pertumbuhannya memakai ponselku. Teman kampusku tidak ada yang tahu bahwa ada Onah di kos, hanya Ibu kos dan teman yang satu kos denganku yang tahu. Namun peristiwa yang tidak pernah kuduga sebelumnya terjadi. Pagi-pagi buta setelah sholat subuh kudengar suara ribut-ribut dari halaman rumah. Langsung ku selimuti Onah agar tidak tersentuh oleh dinginnya hawa fajar.
“Usir pelacur itu dari sini” pekik seseorang dari luar
“ Bakar saja kerudungnya!” sambut dari seorang ibu.
Teman-temanku yang baru bangun langsung ke kamarku, melihat keadaanku terutama Onah, Ia terlihat pulas.
Ibu kosku datang ke depan rumah untuk menjelaskan pada ibu-ibu yang terlihat emosi.
“Ibu-ibu yang terhormat, di sini tidak ada pelacur memang ada anak kos yang memiliki anak tapi itu bukan anaknya melainkan sepupunya yang sudah yatim piatu”.
“Kami tidak peduli itu anak siapa, kami hanya ingin perempuan itu hengkang dari sini!”  terdengar dari seorang ibu yang emosi.”
“Usir dia kalau tidak kami akan bakar dia hidup-hidup.Teriak  yang lainnya
 “Oh Onah apa yang harus kakak lakukan sekarang.” Batinku
Wajahmu terlihat damai meski di luar sana banyak yang meributkanmu. Tidak ada sedikitpun beban yang menutupi wajah mungilmu. Tidak sepertiku menghadapi tumpukan diktat sudah hampir muntah ku melihatnya. Kedipan  matamu seolah mendengar jeritan batinku saat ini. Tangannya menggapai-gapai ke arahku, mungkin Onah ingin aku menggendongnya.  Rasa sesak yang menggelembung di dadaku akhirnya tertumpah juga saat malam itu ibu kosku bilang, aku harus pindah kos. Malam itu juga aku dan Onah keluar dari rumah, teman-temanku mengantarku sampai ke stasiun. Febry teman satu kamarku tidak henti-hentinya menangis dan memelukku. Teman-teman yang lain memelukku dan membelai Onah yang tenang dalam gendonganku. Aku meminta Febry untuk menggendong Onah sebentar karena aku mau ke ATM. Ternyata Tidak ada sedikitpun pundi-pundi tersisa.
            Aku langsung mengambil Onah dari Febri. “Hanya ini yang bisa kami berikan untuk kalian” kata Febri sambil menyerahkan sebuah amplop. Mereka pamit pulang dan meninggalkan aku dan Onah di stasiun. “Onah semoga kita terus berjodoh ya?” kataku sambil membelai ubun-ubunnya yang mulai ditumbuhi sedikit rambut ikalnya. Onah tertidur dalam pelukanku Ia tidak pernah menangis walaupun Ia haus atau lapar. Bukannya tidak ada tiket kereta api, tapi aku tidak tahu harus membawa Onah kemana. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur di Mesjid terdekat selama beberapa hari. Pihak nazir mesjid mau menerima kami dengan senang hati. Karena hadirnya Onah meramaikan masyarakat sekitar mesjid. Sudah beberapa hari ini Onah tidak mau lepas dari gendonganku.
Seperti biasa setiap  aku mau sholat, Onah kuletakkan di kamar sementara kami.
Ku lihat Onah bisa berjalan dan bisa bermain-main seperti batita. Ia berusaha menangkap kupu-kupu, namun tangan mungilnya tidak sampai. Tiba-tiba Onah berbicara denganku “ Onah bahagia di sini, banyak kupu-kupu, banyak bunga, kalau Onah lapar tinggal membayangkan makanannya langsung ada” ucapnya semangat.
“kakak tak mau jauh dari Onah, kemanapun Onah pergi kakak ikut ya? Pintaku lirih.
“Terima kasih ya kak?  sudah mengurus Onah selama ini, sampai kakak tidak tidur kalau Onah sakit.” Aku terkejut mendengar penuturannya.
“Kakak jangan lupakan Onah ya? Kakak jaga diri baik-baik ya? Semoga Allah memberi kakak jodoh yang lebih baik dari Onah.” Ucapnya  lirih
Aku terjaga, dalam kekhusyukanku
“ Onah…. Onah.” jeritku.  

Medan 2010
Untuk Cacha yang kurindukan






My sister

My sister
Tria...

Papa, Ibu, Nurul, Mazda

Papa, Ibu, Nurul, Mazda
dan mereka bermunajat kepada Mu.. Demi anak-anak

Papa dan Adik....

Papa dan Adik....
Pahlawan keluarga, pengemban amanah

My Sister

My Sister

Nurul :) Mazda

Nurul :) Mazda
Love u 4 ever

Your pictures and fotos in a slideshow on MySpace, eBay, Facebook or your website!view all pictures of this slideshow

Pengikut