Blogger Templates
Cute Baby Hello Kitty Twins

star two

Jumat, 08 Juli 2011

FAJAR BERWAJAH GERIMIS

karya : darasyah
            miel.near
    w.k.dian
   



Cerita ini tentang cinta. Namun bukan cinta yang selama ini kalian kenal.


Pesan Ibu minggu lalu masih terus terngiang seolah hari tak lagi berjalan. Sejak gelar sarjana berdamping di awal nama pemberian orang tuaku, hanya omelan ibu yang menghiasi awal hari hingga senja merindu semesta. Kalau tidak takdir yang dibicarakan, perjodohan pun terkadang tak terelakkan. Apalagi kakak tertuaku tak juga memiliki momongan.
Rasa kawatirku pada kesehatan ibu makin bertambah saat tiap minggu ibu harus ke rumah sakit untuk mengontrol tekanan darahnya. Entahlah, apakah aku harus menuruti semua pintanya? Tapi bukan masalah perjodohan saja yang menjadi beban pikiranku sekarang. Ah, mendengar semua ocehan Ibu aku jadi menyesal. Nimas! kenapa kamu harus pulang sekarang?? Kenapa tidak pulang nanti saja? Aku teringat Naura sahabatku, teman satu kampusku, dia sudah mendapatkan pekerjaan. Sebersit pikiran lewat tiba tiba menggugahku. Ku ambil kamera nikkon kesayangku dari dalam tas ransel diatas pangkuanku. Dengan berat kuberdiri, aku mulai berjalan menjauh, meninggalkan rumah yang telah ku huni belasan tahun ini.
Namun tiba-tiba saja ku tak yakin dengan langkah kakiku, entah keputusanku ini akan berujung baik ataukah buruk nanti. Bagaimana dengan Ibu? Bapak? Kuhentikan langkahku saat kulihat semburat jingga matahari. Akankah ku bisa menikmati pemandangan syahdu ini lagi? Akankah aku melihat senyum ibu yang begitu menenangkan hati, ataupun kata-kata bijak Bapak. Bahkan mungkin Ibu atau Bapak tak ingin melihatku lagi setelah keputusanku ini. Pandanganku beralih silih berganti antara teras rumah yang Bapak bangun dengan susah payah, bahkan ku ingat Bapak merelakan satu ekor sapi kesayangannya untuk membangun teras rumah yang kataku tak sebegitu bagus, dan jalan panjang di depanku, yang mungkin di depan sana aku bisa menemukan sesuatu yang lebih dari pada sekarang yang aku dapat. Oh, aku benar-benar tak ingin melakukan ini.
Aku dibesarkan di keluarga yang menjunjung tinggi ‘bibit, bebet dan bobot”. Sejak kecil Bapak dan Ibu memanggilku dengan sebutan Nimas Ayu, seperti kata mereka “ keluarga kita keturunan darah biru” ujar Bapak saat itu. Sebagai gadis kecil yang belum mengetahui istilah “bibit, bebet dan bobot”, aku selalu mengikuti apa yang mereka katakan. Dari urusan sekolah, berteman, pekerjaan hingga masalah calon suami pun orangtuaku lah yang menentukan..
Aku teringat beberapa bulan yang lalu saat Ibu mengomentari kesibukanku, membolak-balik koran, melingkari beberapa lowongan pekerjaan..
“Oalah nduk… nduk jangan ikuti jejak kakakmu yang tidak ikut pesan Ibu, apa jadinya sekarang!” ujar ibu di pagi yang mendung itu.
Benar juga yang dikatakan oleh ibu, kakak tertuaku menikah tanpa restu dari keluarga. Namun naluri seorang ibu takkan pernah pudar meski kesalahan anaknya terlalu besar. Hal ini pula yang sebernarnya aku takuti. Pekerjaan saja aku belum dapat. Apalagi masalah perjodohan? Aku belum sempat memikirkan itu. Aku takut, bagaimana kalau nanti aku seperti kakak? Tiba tiba . .
“Ehm.. Nimas Ayu..” suara seseorang telah mengagetkanku. Membuatku tersadar, jika sedari tadi aku melamun di tengah hamparan sawah milik Bapak. Sawah ini mengering karena musim panas yang berkepanjangan.
“Kamu sudah pulang?” tanyanya lagi. Mulutku sempat ‘babibu’ melihat sosok lelaki itu.
“Ah.. kamu.. i..iya, aku baru saja pulang” ucapku. Suasana hening seketika. Di saat seperti ini, lelaki itu tiba-tiba saja datang tak di undang. Lelaki bertubuh jakung, dengan gaya rambutnya yang menutupi bagian keningnya. Namanya, Elang.
Elang berdiri di depanku, kedua tangannya bersedekap di dadanya, tubuhnya yang tinggi, tak kurus dan tak juga gemuk tampak begitu sempurna dimataku. Senyuman tipis terulas dibibirnya. Ia berjalan mendekat dan duduk disampingku. Jantungku berdegup keras. Ya, Elang selalu bisa membuatku menjadi seperti ini. Andai saja Ibu dan Bapak mengerti, sejak kecil aku sudah jatuh cinta pada Elang. Pada kesederhanaannya, pada senyum ramahnya, pada lelucon-leluconnya yang kadang menurutku tak lucu sama sekali. Andai saja aku bisa menolak perjodohan yang Ibu dan Bapak rencanakan. Andai saja aku tak perlu pergi dari sini. Aku pasti masih bisa memandang Elang, berbincang dengannya atau hanya mendengar leluconnya.
“Sedang apa disini?” lamunanku buyar mendengar pertanyaan Elang.
Aku hanya menggeleng dan tersenyum.
“Kau tidak ingin bercerita padaku?” Elang bertanya sekali lagi
“Aku suka pemandangan di sini, begitu menenangkan hati” sedikit ku mencuri pandangan ke arah Elang. Rambut ikalnya menari-nari dimainkan angin.
“Ooh, aku juga suka. Terus, kenapa kamu bawa kamera itu?”
“Ah? Ini... tidak, bukan untuk apa apa”
Aku dan Elang kembali terdiam. Melihat wajah Elang, aku teringat kejadian sebelum aku pergi dari sini. Aku, Elang dan Naura duduk di saung pinggir sawah punya Bapak, ada canda dan gelak tawa. Sampai akhirnya, Ibu memanggilku. Dan dengan terpaksa, itulah saat terakhir aku bersamanya sampai akhirnya aku pergi ke kota.
“Ayu, hari udah mulai gelap. Kamu tidak pulang?” lagi lagi lelaki itu mengagetkanku.
“Ah? Iya “ dengan kikuk, aku segera berjalan mundur, lalu pulang ke rumah meninggalkan Elang. Ya, pulang ke rumah. Sepertinya, bertemu dengan Elang di saat seperti ini bisa membuat hatiku tenang. Tak segelisah tadi. Tiba tiba, suara Ibu membuatku yang akhirnya refleks menghampiri beliau di kamarnya.
“Ibu... maafin Nimas. Tadi, tadi Nimas khilaf. Ibu sudah tidak apa apa?” tanyaku cemas. Wanita itu terbaring lemah di tempat tidur. Sementara aku, Anak yang belum banyak merasakan asam garamnya kehidupan  tiba tiba saja hampir meninggalkan rumah karena tak kuat menanggung masalah.
    Hingga esok paginya adik Elang datang tiba-tiba ke rumahku, dengan wajah kecemasan ia memberi kabar kalau Elang masuk rumah sakit. Tanpa sepengetahuan Ibu, aku pergi bersama adik Elang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Elang yang sebenarnya. Jantungku seakan berhenti seper sekian detik, saat tiba tiba adik Elang menjelaskan, bahwa ternyata Elang mengidap penyakit kanker darah yang sudah memasuki stadium 4. Seharusnya, kemarin Elang tengah menjalani kemoterapinya. Tapi,  bukankah kemarin Elang menemaiku berdiri tiada guna di sawah. Ya Tuhan.. ini semua.. ini semua salahku.. Aku hanya bisa menutup mulutku menahan tangis.
Namun dalam keterbatasannya, Elang tiba tiba menyentuh tanganku, lalu sepatah kata inilah yang terucap di bibir pucatnya “kita sejak kecil sudah dijodohkan, namun Tuhan menginginkan kamu berjodoh dengan pilihan hatimu, Yu” ujarnya terbata.
“Tapi. Elang kenapa tidak sejak dulu kamu memberitahukan kalau kita telah dijodohkan, bukankah selama ini kamu yang paling dekat denganku” ucapku sambil terisak.
“Kenapa Elang? kenapa?” ucapku
"Karena, aku... aku baru sadar, kalau  aku mencintaimu. Ketika... ketika hal yg tersulit yg kuucapkan adalah, sampai jumpa lagi. “Ni...Nima Ayu”
Elang? Elang? Bangun..
Lelaki itu tiba tiba menutup matanya, dan refleks, ku sentuh pelan pergelangan tangannya. Benar, tak ada pembuluh nadi yang berdenyut lagi di tubuhnya. Elang sekarang sudah tiada. Elang yang kemarin menemaniku di sawah, Elang yang saat itu tertawa bahagia bersamaku dan Naura. Sekarang, tinggalah Elang yang terbaring dalam tidur panjangnya.

My sister

My sister
Tria...

Papa, Ibu, Nurul, Mazda

Papa, Ibu, Nurul, Mazda
dan mereka bermunajat kepada Mu.. Demi anak-anak

Papa dan Adik....

Papa dan Adik....
Pahlawan keluarga, pengemban amanah

My Sister

My Sister

Nurul :) Mazda

Nurul :) Mazda
Love u 4 ever

Your pictures and fotos in a slideshow on MySpace, eBay, Facebook or your website!view all pictures of this slideshow

Pengikut