Blogger Templates
Cute Baby Hello Kitty Twins

star two

Kamis, 30 Juni 2011

Benih Mentari


Mentari pagi terbit dengan sedikit guratan senyum. Wajahku terlihat gerimis menghadapi senin pertama bulan ini. Walaupun kampus masih sepi, hanya beberapa mahasiswa dan petugas kebersihan yang nampak santai di koridor, tapi bayang-bayang mereka menghantuiku bagai vampire yang haus  darah. Termasuk aku mungkin salah satu calon korbannya. Mungkin pantas jika bendahara yang kusebut manusia penghisap darah, dan diktat  di sebut seperti zombie yang selalu memaksa manusia untuk memberikan seluruh nyawanya.
Di kos juga ada vampire karena belum sampai waktu membayar uang bulanan, sebelum tepat jam 12 malam seluruh penghuni kos harus sudah membayar lunas. Satu-satunya senjata yang ampuh untuk membunuh makhluk penghisap darah adalah uang. Sudah tanggal 13 kartu atm milikku menjerit-jerit kesakitan karena berkali-kali digesek baja panas. Kamera cctv juga sudah bosan melihatku berdoa didepannya semoga ada angka yang bertambah di depan saldo tabunganku.
Siang ini aku berjalan gontai menuju tempat favoritku, ku sebut tempat ini dengan pohon jodoh karena di bawah pohon ini aku sering berjodoh. Jodoh dengan daun-daun yang selalu  jatuh tepat di pangkuanku, matahari yang selalu berusaha untuk mencumbu jidatku dan mungkin saja suatu saat ada jodoh yang tidak terbatas pada jodoh bertemu.
Angin memelukku hangat seolah menenangkanku dari batu-batuan yang bersarang di kepalaku. Sayup-sayup kulihat siluet di balik lalang-lalang yang dekat pohon jodohku ini. Lalang-lalang itu seakan menyuruhku untuk mendekat ke arahnya, ternyata ku melihat sosok mungil yang senyum padaku. Spontan kakiku gemetar dan rasanya gak bisa lari, Oh tuhan musibah atau jodoh yang datang siang ini. Langsung terbayang wajah vampire kelas dan vampire kos mematahkan leherku. Pelan-pelan aku berjalan mundur untuk lari dari mimpi siang bolong, tapi tiba-tiba naluri keibuanku muncul. Tak tega rasanya melihat makhluk kecil itu, malaikat kananku berhasil merayu jiwa ini untuk kembali ke tempat tadi. Kutatap mata mungil itu, terlihat jelas Ia tidak merasa terbebani dengan masalah yang Ia hadapi sekarang ataupun suatu saat nanti.
            Kuangkat makhluk kecil itu pelan-pelan dalam gendonganku, Ia langsung kusembunyikan di balik kerudungku, orang-orang di sekitar gang kosku tidak begitu memperhatikan karena setiap hari tas ransel selalu ku gendong di dada. Alhamdulillah kosku sepi, jadi  makhluk kecil baruku langsung kuletakkan di tempat tidurku. Mungkin lebih baik aku bersyukur karena bisa menyelamatkan nyawa manusia tapi aku harus bilang apa jika ada yang tahu kalau aku memiliki bayi. Ohh... malangnya hari ini, semoga saja ada hikmahnya di balik matahari senja yang cemberut ini.
            Alhamdulillah setelah ku cek saldo tabungan dari ponsel ternyata ada beberapa nominal yang bertambah. Tapi, sedikitpun aku tidak ingat dengan para vampir, setelah ku tidurkan makhluk kecilku. Langsung aku pergi ke supermarket untuk membeli pakaian bayi dan beberapa perlengkapan lainnya termasuk susu formula.  Sampai di kos makhluk kecilku tersenyum-senyum melihatku, langsung kugantikan baju dan celananya yang sudah usang. Setelah bersih dan wangi ku letakkan Ia di pangkuanku, ku beri nama  Ia dengan Makrunah.
            Kelihatannya Ia senang kupanggil dengan sebutan Onah. Malam itu juga aku pamit dengan ibu kosku untuk pindah ke rumah kontrakan dengan alasan aku mau mengurus sepupuku yang yatim piatu. Ibu kosku mengizinkan dan teman-teman ku yang lain membantu membereskan barang-barangku. Beberapa teman lainnya saling merebutkan Onah. Ada yang bilang Onah itu mirip denganku tapi mereka percaya karena Onah kuakui sebagai sepupuku. Tidak ada sedikitpun rasa curiga dari semua penghuni kosku termasuk ibu kos. Sebenarnya mereka menyayangkan kenapa aku harus pergi, mungkin ibu kosku lagi berbaik hati Ia mencegahku pergi dengan syarat jangan telat membayar uang kos dan tetap melaksanakan kewajiban sebagai penghuni rumah kosnya.
            Kebetulan minggu ini akhir masuk kuliah,  mulai minggu depan libur selama kurang lebih tiga bualan.jadi aku bisa menjaga Onah setiap hari. Selama ini Onah tidak hanya diasuh olehku tapi beberapa teman satu kosku mau menjaganya, karena dengan hadirnya Onah, suasana kos jadi ramai. Kalau menurut perkiraanku Onah berusia 4 bulan, mungkin ia terlahir prematur karena dari ukuran tubuhnya tidak seperti ukuran bayi biasa.
            Ke manapun aku pergi Onah selalu kuajak, layaknya putri kecil yang lahir dari rahimku sendiri. Tidak lupa hampir setiap hari aku mengabadikan pertumbuhannya memakai ponselku. Teman kampusku tidak ada yang tahu bahwa ada Onah di kos, hanya Ibu kos dan teman yang satu kos denganku yang tahu. Namun peristiwa yang tidak pernah kuduga sebelumnya terjadi. Pagi-pagi buta setelah sholat subuh kudengar suara ribut-ribut dari halaman rumah. Langsung ku selimuti Onah agar tidak tersentuh oleh dinginnya hawa fajar.
“Usir pelacur itu dari sini” pekik seseorang dari luar
“ Bakar saja kerudungnya!” sambut dari seorang ibu.
Teman-temanku yang baru bangun langsung ke kamarku, melihat keadaanku terutama Onah, Ia terlihat pulas.
Ibu kosku datang ke depan rumah untuk menjelaskan pada ibu-ibu yang terlihat emosi.
“Ibu-ibu yang terhormat, di sini tidak ada pelacur memang ada anak kos yang memiliki anak tapi itu bukan anaknya melainkan sepupunya yang sudah yatim piatu”.
“Kami tidak peduli itu anak siapa, kami hanya ingin perempuan itu hengkang dari sini!”  terdengar dari seorang ibu yang emosi.”
“Usir dia kalau tidak kami akan bakar dia hidup-hidup.Teriak  yang lainnya
 “Oh Onah apa yang harus kakak lakukan sekarang.” Batinku
Wajahmu terlihat damai meski di luar sana banyak yang meributkanmu. Tidak ada sedikitpun beban yang menutupi wajah mungilmu. Tidak sepertiku menghadapi tumpukan diktat sudah hampir muntah ku melihatnya. Kedipan  matamu seolah mendengar jeritan batinku saat ini. Tangannya menggapai-gapai ke arahku, mungkin Onah ingin aku menggendongnya.  Rasa sesak yang menggelembung di dadaku akhirnya tertumpah juga saat malam itu ibu kosku bilang, aku harus pindah kos. Malam itu juga aku dan Onah keluar dari rumah, teman-temanku mengantarku sampai ke stasiun. Febry teman satu kamarku tidak henti-hentinya menangis dan memelukku. Teman-teman yang lain memelukku dan membelai Onah yang tenang dalam gendonganku. Aku meminta Febry untuk menggendong Onah sebentar karena aku mau ke ATM. Ternyata Tidak ada sedikitpun pundi-pundi tersisa.
            Aku langsung mengambil Onah dari Febri. “Hanya ini yang bisa kami berikan untuk kalian” kata Febri sambil menyerahkan sebuah amplop. Mereka pamit pulang dan meninggalkan aku dan Onah di stasiun. “Onah semoga kita terus berjodoh ya?” kataku sambil membelai ubun-ubunnya yang mulai ditumbuhi sedikit rambut ikalnya. Onah tertidur dalam pelukanku Ia tidak pernah menangis walaupun Ia haus atau lapar. Bukannya tidak ada tiket kereta api, tapi aku tidak tahu harus membawa Onah kemana. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur di Mesjid terdekat selama beberapa hari. Pihak nazir mesjid mau menerima kami dengan senang hati. Karena hadirnya Onah meramaikan masyarakat sekitar mesjid. Sudah beberapa hari ini Onah tidak mau lepas dari gendonganku.
Seperti biasa setiap  aku mau sholat, Onah kuletakkan di kamar sementara kami.
Ku lihat Onah bisa berjalan dan bisa bermain-main seperti batita. Ia berusaha menangkap kupu-kupu, namun tangan mungilnya tidak sampai. Tiba-tiba Onah berbicara denganku “ Onah bahagia di sini, banyak kupu-kupu, banyak bunga, kalau Onah lapar tinggal membayangkan makanannya langsung ada” ucapnya semangat.
“kakak tak mau jauh dari Onah, kemanapun Onah pergi kakak ikut ya? Pintaku lirih.
“Terima kasih ya kak?  sudah mengurus Onah selama ini, sampai kakak tidak tidur kalau Onah sakit.” Aku terkejut mendengar penuturannya.
“Kakak jangan lupakan Onah ya? Kakak jaga diri baik-baik ya? Semoga Allah memberi kakak jodoh yang lebih baik dari Onah.” Ucapnya  lirih
Aku terjaga, dalam kekhusyukanku
“ Onah…. Onah.” jeritku.  

Medan 2010
Untuk Cacha yang kurindukan






My sister

My sister
Tria...

Papa, Ibu, Nurul, Mazda

Papa, Ibu, Nurul, Mazda
dan mereka bermunajat kepada Mu.. Demi anak-anak

Papa dan Adik....

Papa dan Adik....
Pahlawan keluarga, pengemban amanah

My Sister

My Sister

Nurul :) Mazda

Nurul :) Mazda
Love u 4 ever

Your pictures and fotos in a slideshow on MySpace, eBay, Facebook or your website!view all pictures of this slideshow

Pengikut