Malam ini guratan kegundahan takkan pernah terpancar lagi . Air mataku hanya menetes sebentar mengikhlaskan sebagian jiwa yang telah jauh pergi.
Mungkin sudah takdirku untuk merelakannya!”
****
Berkali-kali kegoisannya selalu menghujam batin ini, mengendap hingga kini. Setiap harinya hanya ada hinaan yang kau tamparkan di balik ketulusanku. Membandingkanku dengan wanita itu membuat batin ini semakin perih.
Ingin rasanya rahasia kita kuungkapkan pada wanita itu.
“dua hati berteduh dari emosi-emosi berkepanjangan.
emosi-emosi kemunafikan dan menjauh dari kebringasan waktu.
dua hati itu mengadu dan memadu saling mencumbu…..”
Ini bukan pembalasan, melainkan secuil perjalanan pencarianmu untuk medapatkan keindahan fisik semata. Keindahan yang suatu saat bisa membuatmu merasa indah dan itu bukan aku.
Mungkin ku tak kelihatan indah atau karena ku tak bisa melengkapi keindahan ragamu. Hanya notes kecil yang bisa mewakili dirimu sebagai pelampiasan marahku.
“Hatiku naif mengukur kesetiaan pujangga
pada syair-syair kebohongan, hatimu mengalihkannya dengan senyuman miris…”
Berhari-berhari kata-kata indah selalu meluncur dari ucapmu tapi tak pernah puitis kau menghadiahkannya padaku. Hanya sempurna dan tidak sempurna yang kau agung-agungkan pada sosok wanita itu, dan lagi-lagi bukan aku.
Berulang-ulang pujian itu `berdengung di telingaku, “siapakah wanita itu”
Berharap suatu masa ku bisa mengenalnya lebih dekat sebab teringat akan obrolan ku dengannya kemarin malam.
“Kau sombong, setiap melihat butik pakaian kau langsung berteriak histeris”
“Itu memang kebiasaanku, maniak belanja”
“Kau bukan orang kaya tapi caramu seperti orang kaya, lihat dia walaupun orang tuanya lebih kaya dari orang tuamu tapi dia tidak sombong sepertimu!”
Ingin rasanya ku menamparmu di depan mereka, tapi jika itu kulakukan akan memperburuk suasana makan malam ini.
Terlintas kembali di benakku, siapa wanita itu dan mengapa ku selalu terpojok dengan pujian terhadapnya. Dan ini kemarahanku yang ke dua padamu.
“Hatimu kalut melepas hati-hati yang sepi merentangkan sosok-sosok pembeda.
hatimu telah jatuh cinta
pada arus yang menggiringmu ke arah lembayung kebinasaan
yang pasti menimpamu, itu kata hatiku”
Ingin rasanya ku bertanya tentang semua perubahan yang ada pada dirinya namun hanya keangkuhan yang kau lampiaskan untukku seperti malam itu.
“Kau bukan siapa-siapa untukku, kita hanya teman bahkan teman biasa dan kau jangan pernah melarangku untuk tidak berteman dengan wanita manapun”
“Tapi aku hanya penasaran siapa wanita yang bisa membuatmu berubah menjadi angkuh padaku”
“Suatu saat kau pasti akan kukenalkan karena dia wanita pujaanku sejak dulu”
Kata-kata yang sengaja diucapkannya membuat dadaku sesak dan dan lagi-lagi bukan aku.
Mungkinkah aku cemburu padanya, sedang ia mengembara bersama impiannya.
“kepercayaan berlari mengejar jejak-jejak suram
yang menerbangkan keinginanmu
untuk hati paling terkecil dari benakmu.
hari ini dua hati kulihat bergelayutan”
Dan itu cemburu pertamaku untukmu.
Teringat akan janji kita sewaktu di puncak setahun lalu, dan kau memberi secercah harapan indah yang terselubung di balik perjanjian abstrak yang selalu ku ingat sampai sekarang dan sampai kapanpun.
“Ada hati yang berdiri di atas konsekuensi.
hati yang lain mencoba menerobos pagar ketegara”
Aku bosan dengan kisah ini segera ku berkemas-kemas menuju terminal pencarianku.
****
Tiga bulan pun berlalu tanpa ada nada-nada dering darinya, pesan-pesan singkat bertegur sapa, kemarahan yang tak berujung. Akhirnya sepi pun semakin terperi andai ia suatu saat kembali. Walau ada rasa rindu yang membelenggu ragu namun takkan bisa menghempaskan cemburuku padanya. Entah sampai kapan, aku terus menunggu dan lagi-lagi bukan aku.
“Malam berganti malam ada hati yang mesra berderai air mata,
hatimu hanya menambah dengan lecutan pedih.
tidakkah hatimu memiringkan puncak egois
aku hanya berjanji
ingin mengatup tabir dari mimpi-mimpi usang yang telah usai”
Sebelum fajar menjelang niat hati ingin bertanya kabar dengannya sebab mimpi-mimpi tentangnya terus berdatangan lewat tidurku. Dengan jari-jari bergetar ku memberanikan diri menekan tombol-tombol pada ponselku sembari memikirkannya.
“Assalammualaikum, apakah kamu baik-baik saja sekarang? Perasaanku tidak enak tentangmu selama ini”
Berjam-jam lamanya ku menunggu balasan darinya tapi tak tampak juga, mungkin ia telah bahagia ataupun tak mengenaliku lagi. Keesokan paginya setelah ku bermunajat pada Sang Pencipta, ternyata ia telah membalasnya lewat kata-kata yang sangat meleburkan segala harapanku.
“Aku baik-baik saja, kenapa baru sekarang kau menghubungiku tapi sekarang ku sudah punya pacar”
Tuhan inikah jawaban penantianku selama ini, saat ku harus mencari jawaban kecemburuanku padanya namun kini ia telah memilihnya dan lagi-lagi bukan aku.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar